Oleh: Basuki Eka Purnama
Seorang pria muda asal Prancis mempunyai mimpi. Keliling dunia tanpa mengeluarkan banyak uang. Hanya dengan jempol tangan, mimpinya jadi kenyataan.
——————taiching—————
LUDOVIC Hubler punya senjata ampuh. Dengan acungan jempol tangan, pria kelahiran 11 September 1977 ini telah menyambangi 40 negara. Perjalanan dimulai 1 Januari 2003. Berbagai transportasi dia gunakan, mulai dari menumpang mobil pribadi, truk, kapal laut, kapal kargo, juga <i>ice breaker<p>.
Bagi Ludovic, <i>hitchhiking<p>–menumpang kendaraan orang lain menuju ke suatu tempat–merupakan metode perjalanan terbaik. Cara ini efektif digunakan jika ingin mengenal dan melihat dunia lebih dekat. Di dalamnya termasuk mengenal masyarakat dan penduduk lokal.
"Dengan metode ini, Anda tidak bisa menduga akan bertemu dengan siapa. Mulai dari pekerja kantoran, petani, pendeta, bahkan penjahat sekalipun. Untuk menghadapi itu, kita butuh strategi. Bagi saya, selama tidak mengganggu, tidak masalah," ujarnya saat ditemui <i>Media Indonesia<p>, Sabtu (16/9).
Ludovic mengenal metode <i>hitchhiking<p> pada usia 16 tahun. Saat itu, cerita pria asal Strasbrourg ini, ibunya sangat protektif dan selalu ingin mengantar ke mana pun dia pergi. Namun, ayahnya ingin melihat Ludovic menjadi pria mandiri. Lalu, sang ayah menganjurkan agar Ludovic melakukan perjalanan dengan cara menumpang. "Awalnya memang aneh. Kita harus mengacungkan jempol kepada orang yang tidak dikenal. Tapi akhirnya saya menikmati. Mula-mula hanya keliling kota, kemudian keliling Prancis dan Eropa. Saya kemudian berpikir, mengapa tidak mencoba keliling dunia?" kisahnya.
Maka, pada awal 2003, keinginan itu diwujudkan. Ludovic merasa mendapat banyak pelajaran. Bagi bungsu tiga saudara ini, <i>hitchhiking<p> merupakan sekolah kehidupan terbaik. "Memberi pelajaran tentang kegigihan, kesabaran, optimisme, keuletan, adaptasi, toleransi, dan diplomasi. Selain itu, semua pengemudi yang memberi tumpangan menjadi guru yang memberi pengetahuan baru. Perjalanan ini seperti kuliah S-3 dalam ilmu kehidupan," ujarnya.
Pria yang memiliki gelar master bisnis ini juga merasa mendapat pencerahan. Dia jadi tahu bahwa pada dasarnya semua orang di dunia baik dan jujur. Stereotip mengenai masyarakat dan bangsa yang selama ini melekat sering kali hanyalah isapan jempol. Bangsa yang identik dengan teroris misalnya, kenyataannya tidak demikian. Ludovic mengaku sangat terkesan dengan Indonesia. Menurut dia, orang-orangnya ramah dan murah senyum.
Lebih jauh dia membagi pengalaman mencari akomodasi gratis. Kunci utamanya: "Internet," jawabnya singkat.
Menganggarkan US$10 per hari, Ludovic menggunakan uang itu untuk makan dan membuka akses internet. Ia menyebutkan dua <i>website<p>, yaitu <i>www.hospitalityclub.org<p> dan <i>www.coucsurfing.com<p>. Dua situs itu ia gunakan sebagai acuan untuk mendapat tempat menginap gratis. "Isinya daftar ratusan ribu orang baik hati yang menawarkan tempat tinggal gratis bagi orang yang tengah melakukan perjalanan," katanya.
Begitulah Ludovic menyiasati transportasi dan tempat menginap. Dari Indonesia, dia akan melanjutkan perjalanan ke 14 negara lagi. Antara lain Thailand, Malaysia, China, dan Tibet, sebelum akhirnya kembali ke Prancis. Dalam perkiraan dia, perjalanan paling lambat akan berakhir Desember 2007. Semoga sukses, Ludovic! <b>(M-1)<p>
b>Perubahan Ambisi Pribadi<p>
AWALNYA, perjalanan keliling dunia menjadi ambisi pribadi Ludovic Hubler. Tapi kecintaannya pada anak-anak mengubah segalanya. "<i>I believe that children are our future<p>," katanya kepada <i>Media Indonesia<p>, saat mengadakan acara temu dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Jakarta, Sabtu (16/9).
Perubahan itulah yang mendorong Ludovic mendatangi LSM, kampus, dan sekolah-sekolah di setiap negara yang dikunjungi. Tujuannya berbagi pengalaman, menambah wawasan dan juga teman. "Setelah mendatangi beberapa negara, saya merasa perjalanan yang saya lakukan bisa dimanfaatkan untuk membawa perubahan," katanya.
Maka, mulailah pria berusia 29 tahun ini berbagi pengalaman. Dia memberikan semacam kuliah umum ke LSM, kampus, dan sekolah. Dibagi dalam dua sesi, pertama menceritakan pengalaman saat mengelilingi dunia, kedua membahas berbagai topik yang sedang hangat seperti pemanasan global, <i>fair trade<p>, kemiskinan, dan sebagainya.
Ludovic juga mempunyai <i>mentoring project<p>. Di sini ia membagi pengalaman dengan anak-anak penderita kanker. Ia menggunakan fasilitas internet untuk menjalankan proyek tersebut. Tujuannya memberi semangat dan membagi pengalaman. "Saya mengirimi mereka foto-foto perjalanan, seperti penguin, kanguru, koala, atau komodo. Selain itu saya juga memanfaatkan <i>webcam<p> untuk berkomunikasi langsung. Dengan cara ini, saya seperti mengajak mereka ikut serta dalam perjalanan," tuturnya.
Apa yang dilakukan tidak berhenti sampai di situ. Dia juga bekerja sama dengan para guru dan pembimbing anak-anak penderita kanker. Pengalaman perjalanan dijadikan bahan diskusi. Misalnya saat Ludovic menyeberangi Samudra Atlantik, anak-anak akan diajak menggambar kapal layar. Ketika berada di Antartika, para pembimbing memberi tambahan pengetahuan tentang penguin.
Belakangan, kesibukan pria Prancis ini bertambah. Saat berada di Brasil dan mengadakan kunjungan ke beberapa LSM, dia baru sadar sering kali ada tumpang tindih program. Kenyataan itu terus mengganggu pikirannya. "Andai LSM anak bisa lebih berkoordinasi, maka program yang dilaksanakan akan lebih efektif," cetusnya.
Beranjak dari pemikiran itu, Ludovic dibantu teman <i>chatting<p> dari Indonesia berinisiatif menjadi fasilitator, mengadakan pertemuan dengan LSM-LSM anak di Indonesia. Tujuannya cuma satu, supaya mereka bisa saling membicarakan program, sehingga tidak terjadi tumpang tindih. Selain itu, jika ada program yang sebenarnya berhubungan, bisa disinergikan. "Intinya saling membantu," ujarnya.
Sabtu pagi saat ditemui, Ludovic tengah sibuk berbincang dengan banyak teman dari LSM. Semua kesibukan itu dilakukan, karena dia percaya, anak adalah kunci masa depan. "Kamu tidak bisa mengubah orang dewasa, sementara anak-anak itu ibarat tanah liat yang masih bisa kita bentuk menjadi lebih baik," tegasnya. <b>(M-1)<p>